Bangga Yang Sesuai Takaran

Bangga dan Yakin

Bangga dengan keyakinan yang dianut diri sah-sah saja. Tapi ketika kebanggaan tersebut menyinggung kebanggaan orang lain atas keyakinan yang diyakininya juga, maka bersiaplah untuk berdiskusi, berdebat, bertikai, atau berperang. Itu lah salah satu rumus pasti manusia ras ini. Yang belum ada obatnya…

Jika manusia sudah dewasa rasa, akal dan jiwanya, jika membahas ilmu bicaranya sedikit, ringan, bahasanya biasa saja tidak kelangit-langitan atau keawan-awanan, tapi menyentuh titik ruhani, mudah dimengerti oleh orang bodoh  sekalipun dan bisa diterima dengan senang akal, senang jiwa dan senang hati.

Kalau ketika membahas ilmu bicaranya melangit-mengawan, rumit, meninggi, berbelit-belit, da…n sukar dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri, itu tandanya manusia itu masih anak-anak jiwanya, akalnya dan rasanya.

Seiring kedewasaan rohani seseorang, maka rasa bangganya terhadap sesuatu, baik dirinya, agamanya, gurunya, ahli agamanya,  kelompoknya, majelisnya, ormasinya, partainya,  idolanya , asetnya,  dan lain-lain akan sesuai takarannya

Usia Rasa Bangga

Melihat atau mendengar seseorang tutup usia, idealnya menjadikan manusia sadar bahwa lain waktu, entah berapa lama lagi dirinyalah yang akan tutup usia.

Melihat atau mendengar seseorang mengalami kegagalan, idealnya menjadikan manusia sadar bahwa lain waktu, entah berapa lama lagi dirinyalah yang akan mengalami kegagalan.

Melihat atau mendengar seseorang mengalami kesendirian, idealnya menjadikan manusia sadar bahwa lain waktu, entah berapa lama lagi dirinyalah yang akan mengalami kesendirian.

Semua manusia itu sama dalam takdirnya, karena sama ruang dan sarana hidupnya. Akan tetapi beda pada waktu datang takdirnya tersebut.

 

Bangga Yang Sadar

Dengan sadar akan datangnya sang maut yang adil dan tak pandang bulu. Maka idealnya dapat mendewasakan rasa bangga manusia.

Setiap manusia ada takarannya masing-masing. Sesuai dengan kemampuannya, situasinya, kondisinya, dan lingkungannya.

Salah-satu kemampuan ideal yang harus dimiliki oleh seorang mursyid adalah mengetahui takaran yang cocok untuk muridnya. Karena tiap manusia berbeda-beda kemampuan rasa dan akalnya dalam menangkap nasehat atau didikan.

Contoh:

Murid A orang biasa yang hanya paham bahasa umum saja. Murid B berlatar belakang kajian ilmu fiqih. Murid C berlatar belakang kajian ilmu nahwu.

Pertanyaan:

* Apakah tujuan hidup yang sebenarnya ?

Untuk menjawab pertanyaan ini mursyid yang ideal biasanya menjawab sesuai kapasitas yang bertanya.

* Jawaban yang ideal dari pertanyaan di atas adalah:

  1. Untuk murid A ; “Menjadi manusia yang baik rasa, lisan, tulisan, fikiran, dan perbuatannya”.
  2. Untuk murid B ; “Sesuaikan tujuan hidupmu dengan 5 kaidah utama dalam kaidah fiqih , yaitu: اليقين لا يزال بالشك . dalam hidup, teori adalah sesuatu yang wujudnya belum dapat diyakini keberadaan aktualnya. Untuk mewujudkan teori menjadi sebuah keberadaan yang diyakini, ejawantahkanlah teori tersebut ke dalam rasa, akal, lisan, tulisan, dan perbuatan. المشقة تجلب التيسير. Dalam hidup pada zaman ini, dimana manusia selalu ingin  serba instan dalam segala hal, ketika engkau menyampaikan pesan atau ajaran kebaikan. Buatlah yang rumit menjadi sederhana, yang sederhana wujudkanlah contoh nyatanya. Dan seterusnya…..
  3. Untuk murid C:   كلامنالفظ مفيد كاستقم … واسم وفعل ثم حرف الكلم Jadikan hidupmu memiliki makna yang fashih. Jadikanlah hidupmu menjadi sebuah kalam yang lengkap. Jadikanlah hidupmu yang lengkap isim, fi’il, dan hurufnya. Jadikanlah hidupmu menjadi lafzhun mufidun yang kuat dan teguh tak tergoyahkan seperti lafazh istaqim. Dan jadilah kamu manusia yang bisa memilah juga memilih, mana isim, mana fi’il, dan mana huruf. Sehingga hidupmu akan kuat terkonsep rapi dari kalim hingga kalamnya, dari kalam hingga kalimnya, dan kemudian dapat menjadi bait awal dari al-fiyah khairul barriyah.

 

Bangga Yang Beriringan

Itulah idealnya sang mursyid yang tepat kemursyidannya. Dia menyampaikan didikan, dan ajaran sesuai dengan takaran murid-muridnya. Hanya tinggal muridnya saja menerima atau tidak didikan dan ajaran tersebut. 

Karena terkadang ada murid yang tidak tahu takaran diri, kemampuan masih huruf, tapi ingin menjadi fi’il. Kemampuan masih fi’il, ingin pula bertugas seperti isim.

Dan kadang ada murid yang berbalik memarahi, mendebat, mengolok-ngokok, menggosip, dan bahkan membenci sang mursyid, hanya karena dia tidak terima metode sang mursyid. Hanya karena murid ini tidak sabar dalam perjalanan. Dan tidak mau sadar akan ukuran dirinya sendiri. 

Mursyid dan murid pada idealnya saling beriringan menuju kepada kedewasaannya masing-masing, dalam rasa bangganya masing-masing, dan dalam takarannya masing-masing.

Semoga kita dapat menemukan mursyid kita masing-masing. Yang dapat membimbing kita menjadi manusia yang memang manusia. Bukan manusia zombie, bukan manusia setengah hewan, bukan manusia setengah benda, dan bukan manusia yang cuma hasil dari ngaku-ngaku dan merasa saja.

Cheerss…kLepus .. whuUuZz

Share the knowledge ✓

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.