Kekacauan ini

Sadar atau tidak sadar manusia Indonesia sekarang sedang diarahkan kepada kekacauan dan kehancuran. Mereka sedang diarahkan untuk membiasakan diri tidak saling menghormati dan saling tidak menghargai. Jika tidak menghargai dan tidak menghormati orang lain sudah menjadi kebiasaan, maka manusia Indonesia akan menjadi kumpulan manusia yang sangat berpotensi saling merusak.

Dalam lini masa dan media sosial, dimana kedua lini tersebut zaman ini menjadi dua ‘sekolah’ utama bagi manusia era kini. Bacaan tentang saling hina, benci, caci, bongkar aib, saling mencari keburukan,… melebar terus hingga memperkosa dan membunuh sudah menjadi bacaan dan konsumsi harian masyarakat Indonesia. Baru-baru ini beredar berita dimana seorang gadis diperkosa secara berulang dan bergantian oleh ayah, kakak, dan adiknya. Pemerkosaan ini berjalan selama setahun semenjak ibundanya wafat. Ada lagi kejadian seorang suami membunuh istrinya yang sedang hamil tua dengan cara menggorok lehernya kemudian membelah perutnya. Ada lagi ayah memperkosa anak kandungnya hingga melahirkan anak. Ada lagi murid yang menghajar gurunya hingga menyebabkan sang guru wafat. Ada lagi seorang suami yang membunuh istri dan anak balitanya kemudian setelah itu dia berlari dengan tidak memakai baju keluar rumah kemudian mengumandangkan adzan. .. dan ada lagi.. dan ada lagi…. wow Indonesia..

Tahukah darimana ini dimulai? dan kemana arahnya ini?

Pemimpin, para ahli agama, dan tentara adalah tiang penjaga kestabilan sebuah bangsa. Sadarkah bahwa di Indonesia beberapa tahun ini sedang marak kebiasaan untuk selalu menghina, tidak mempercayai, tidak menyukai, membenci, dengki, hasut dan fitnah para pemimpin, para ulama, dan tentara. Dimana mengarahkan hinaan, cacian, kebencian, ketidak percayaan, fitnah, dan keburukan – keburukan lainnya kepada para pemimpin, ulama dan tentara menjadi sebuah hal yang biasa pada hari ini.  

Secara tidak sadar perilaku tersebut adalah hasil dari suatu ‘tanaman’ yang telah ditanam beberapa lama, yang ‘tanaman’ tersebut mengarahkan Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa, sebuah kumpulan masyarakat yang kacau. Karena jika pemimpin, ulama, dan tentaranya sudah dibenci, tidak dipercayai, difitnah, dan dicaci lalu siapa yang bisa diikuti ‘perkataanya’ dalam menjaga bangsa ini tetap stabil dan tetap aman.

Jika pemimpin, ulama, dan tentara sudah tidak lagi dihargai dan tidak lagi dihormati lalu masyarakat dan bangsa ini akan menghormati dan menghargai siapa? Jika level pemimpin, ulama, dan tentara saja tidak bisa dihargai dan dihormati, lalu bagaimana bisa masyarakat menghargai dan menghormati level masyarakat yang bukan pimpinan, ulama, dan tentara?

Para pemimpin, para ulama, dan tentara bukannya tidak pernah atau tidak mungkin bersalah, mereka bisa berbuat salah, mengkritik mereka dan mengingatkan mereka jika mereka salah itu tidaklah salah. Jika para pemimpin, ulama, dan tentara ada berbuat salah adalah sebuah hal yang ideal atau yang mungkin wajib dilakukan oleh masyarakat untuk mengkritik dan mengingatkan mereka, karena mengkritik dan mengingatkan untuk kebaikan itu adalah kebaikan, dengan adanya kritik dan peringatan para pemimpin, para ulama, dan tentara bisa membenahi diri mereka jika mereka ada salah. Akan tetapi mengkritik dan mengingatkan sangat berbeda dengan memfitnah, mencaci, membenci, mendengki, membunuh karakter dan hal buruk lainnya.

Manusia Indonesia harus segera sadar bahwa mereka sering diarahkan ke arah kekacauan dan kehancuran oleh ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’. Manusia Indonesia bagaimanapun mereka saling berbeda pendapat, perbedaan pendapat yang ada tidak harus merubah atau membuat mereka bisa saling menghina, mencaci, memfitnah sesama anak bangsa. Kritik dan ingatkanlah pemimpin, ulama, dan tentara jika mereka ada salah. Ingatkan mereka semampunya, kritik mereka semampunya, tentunya dengan cara yang baik. Karena tentu tujuan mengkritik dan tujuan mengingatkan itu diawali oleh niat baik, maka penyampaiannya pun idealnya dengan  cara yang baik pula.

Siapa yang rugi kalau bangsa ini terpecah belah? , siapa yang rugi kalau bangsa ini kacau? , siapa yang rugi kalau bangsa ini hancur? tentu yang rugi adalah masyarakat Indonesia itu sendiri.

Manusia Indonesia pada masa sekarang harus mampu dan harus bisa untuk menghilangkan kebiasaan saling menghina, saling mencaci, saling membenci, saling curiga, saling memfitnah, saling mencuri, saling memperkosa, saling membunuh, dan saling yang buruk lainnya.

Memang manusia biasa tidaklah bisa menjadi sepenuhnya suci, tidak bisa sepenuhnya tidak bersalah, akan tetapi jangan sampai ketidak-sucian tersebut dan kemungkinan berbuat salah tersebut menjadi pemicu yang membuat bangsa ini kacau dan hancur.

Manusia Indonesia tentunya masing-masing mempunyai pemimpin idola, ulama idola, dan tentara idola. Dimana mereka sangat mencintai, menghargai, dan menghormati pemimpi, ulama, dan tentara idola mereka tersebut. Sangat mungkin banyak terjadi perbedaan pendapat dan perbedaan pendirian antara para pemimpin, para ulama, dan para tentara yang ada di Indonesia. Perbedaan pendapat dan pendirian tersebut jangan dijadikan alasan untuk saling menghancurkan akan tetapi jadikanlah hal tersebut menjadi sebuah perpustakaan besar yang menambah Khazanah pengetahuan yang ada di Indonesia. Dimana khazanah pengetahuan tersebut ideal menjadi kekayaan yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa, kesejahteraan umat, dan kemapanan masyarakat.

Mana yang mau di lakukan, apa yang akan dilaksanakan, dan Kemana tujuan bangsa ini akan mengarah, masyarakat Indonesia sendirilah yang akan menentukan hal tersebut.

Salam Damai

 

Share the knowledge ✓

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.