Membongkar Ilmu Tasawuf

Last Updated on

Dalam artikel ini saya akan Membongkar Ilmu Tasawuf dari segi bahasa, istilah, pembagian, dan makrifat mengenainya. Selamat membaca.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Kalimat Pembuka

Manusia adalah makhluk yang sangat unik dan kompleks. Semua aspek yang menjadi kebutuhan manusialah yang membuat kehidupan di dunia ini terus berjalan dari awal hingga kelak.

Dari ukuran terkecil yang ada dalam tubuh manusia bisa menjadi area bisnis yang sangat besar.

Contohnya seperti ketombe. Akibat dari kehadiran ketombe di atas kepala manusia, maka kegiatan bisnis besar seperti pabrik shampo bisa berjalan.

Berapa juta manusia dengan berbagai gelar akademiknya, dengan berbagai selera hidupnya, dan dengan berbagai latar belakangnya bersatu padu setiap detiknya dalam satu tujuan utama. Yaitu menyikapi keberadaan ketombe.

Berapa juta manusia yang mendapatkan pekerjaan dan kemudian berkegiatan setiap detiknya. Dengan beragam kebutuhan hidupnya, beragam pembayarannya, dan beragam perbedaan lainnya.  

Berapa terori ilmu sains, berapa perangkat teknologi yang digunakan dalam proses ini.

Dengan berbagai latar belakang penyusunannya, dengan berbagai latar belakang keterciptaannya. Sains dan teknologi bersatu padu tiap detiknya dalam kegiatan ini.

Mereka semua, yaitu manusia, sains dan teknologi bergerak dalam sebuah sistem terpadu. Mereka patuh  terhadap sistem tersebut agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun.

Semua itu terjadi karena kehadiran suatu entitas sangat kecil yang hampir sebesar debu. Yang dinilai oleh pengetahuan mereka dapat mengganggu kenyamanan hidup mereka. Entitas sangat kecil itulah yang dikenal dengan istilah ketombe.

Membongkar Ilmu Tasawuf: Kecerdasan Manusia

Kecerdasan-kecerdasan manusia berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh jasadi mereka. Sekecil apapun itu.

Lalu bagaimana dengan sesuatu yang dapat  mengganggu kesehatan jasad ruhani, apakah kecerdasan-kecerdasan manusia juga menciptakan teknologi untuk menyikapinya ?

Jawabannya adalah Ya. Manusia dengan kecerdasannya telah menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk menyikapi hal tersebut.

Ilmu pengetahuan itu dikenal dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu ini dikenal dengan sebutan tasawuf, hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dll.

Untuk membahas  semua tentang hal yang tersebut di atas tidaklah cukup satu atau dua bahkan puluhan artikel.

Artikel kali ini akan dikhususkan untuk membahas mengenai ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sebutan Tasawuf. Lebih khususnya lagi dalam dunia kajian agama Islam.

Membongkar Ilmu Tasawuf : Apakah arti Tasawuf ?

Mengenai apa itu tasawuf, dari dahulu hingga kini perdebatan mengenai hal tersebut belumlah usai. Saya dalam artikel ini akan fokus pada pembahasan Tasawuf secara global dan tidak akan menyelam terlalu dalam.

Jadi saya tidak akan mengutip segala macam perdebatan yang telah dan sedang ada dalam dunia tasawuf sekarang.

Mengenai pembahasan seperti itu, akan ada pada bahasan-bahasan per bab secara terperinci. Mudah-mudahan nanti pada artikel-artikel berikutnya.

 

Menurut bahasa

Hingga sekarang tasawuf menurut bahasa pun perdebatannya belumlah usai. Untuk menghindari artikel terlalu panjang, saya akan kutipkan arti menurut bahasa yang biasanya dipakai dalam kajian-kajian tasawuf saja.

١. تصوّف الشّخص:  صار صُوفيًّا واتبَّع سُلوكَ الصُّوفيّة وحالاتهم .
المعجم: عربي عامة

Tashawuf Asy-syahshi ; menjadi seorang sufi dan mengikuti jalan-jalan dan prilaku kesufian.

٢. تَصَوَّفَ فلانٌ : صَار من الصوفيَّة .

المعجم: المعجم الوسيط

Tashawwafa Fulaan; menjadi bagian dari kesufian. (Mu’jam Al-wasiith)


٣. تَصَوُّفٌ :
[ ص و ف ]. ( مصدر تَصَوَّفَ ). :- دَخَلَ الشَّيْخُ مَرْحَلَةَ التَّصَوُّفِ :- : التَّعَبُّدِ وَالتَّزَهُّدِ وَالابْتِعَادِ عَنْ مُخَالَطَةِ النَّاسِ . :- التَّصَوُّفُ يَكُونُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَقَطْعِ الشَّهْوَةِ :- ( الغزالي ).

المعجم: الغني

Tashawwufun: mashdar dari kata tashwwafa: Syaikh memasuki tempat kesufian : untuk ta’abud, tajahud, dan menjauhi keramaian.

Dan menurut Al-ghazali At-tashawwuf itu mujahadah dan mengendalikan syahwat. (Al-ghaniy)

٤. تصوُّف :  تصوُّف :-

– ( الفلسفة والتصوُّف ) طريقة في السّلوك تعتمد على التقشُّف ومحاسبة النفس ، والانصراف عن كلّ ما له علاقة بالجسد والتَّحلِّي بالفضائل ؛ تزكية للنَّفس وسعيًا إلى مرتبة الفناء في الله تعالى إيمانًا بالمعرفة المباشرة أو بالحقيقة الرُّوحيّة .

Tashawuf : Falsafah Tasawuf, suatu thariqah dalam banyak suluk yang konsisten dalam mengendalikan dan mengorganisasi An-nafs.

Dan memalingkan an-nafs dari tiap hal yang dapat mengakibatkan kergantungan  an-nafs terhadap jasad.

Dan menerapkan keutamaan-keutamaan terhadap an-nafs. Konsisten dalam proses pembersihan an-nafs.

Bersemangat dalam menuju martabat fana’ fillahi ta’ala. Beriman dengan makrifat dan mubasyarah atau dengan hakikat ruhiyah.

علم التَّصوُّف : ( الفلسفة والتصوُّف ) مجموعة المبادئ التي يعتقدها المتصوِّفةُ والآداب التي يتأدّبون بها في مجتمعاتهم وخلواتهم .
المعجم: اللغة العربية المعاصر

 

Ilmu Tasawuf: (falsafah/filsafat dan tasawuf) sekumpulan prinsip yang percaya padanya para mutashawif.

Dan sekumpulan adab-adab yang beradab dengannya para mutashawif dalam setiap perkumpulannya dan khalwatnya.


٥. تصوَّف :


تصوف – تصوفا
1 – تصوف : صار « صوفيا »، أي متزهدا متعبدا .

2 – تصوف : تخلق بأخلاق الصوفية .
المعجم: الرائد

Tashawwaf – Tashawufan

  1. Tashawwaf : menjadi (seorang sufi), yaitu konsisten berada dalam kezuhudan dan peribadahan.
  2. Tashawaf : berakhlak dengan akhlak sufi

٦. التَّصوُّفُ:

التَّصوُّفُ : طريقة سلوكية قوامها التقشف والتحلي بالفضائل ، لتَزْكُوَ النفسُ وتسموَ الروح .

At-tashawwufu

At-tashawwufu: thariqah kesulukan yang menegakan pengendalian dan analisisnya atau pengonsepan thariqah kesulukannya dengan keutamaan-keutamaan, untuk konsisten dalam membersihkan an-nafs dan meninggikan ar-ruh.

 

Menurut Istilah

Sama seperti arti kata tasawuf menurut bahasa, hingga sekarang tasawuf menurut istilahpun perdebatannya belumlah usai.

Maka untuk menghindari artikel terlalu panjang, saya akan mengutipkan arti menurut istilah yang biasanya dipakai dalam kajian-kajian tasawuf saja.

وأما تسميتهم بالصوفية فقالت طائفة: “إنما سموا صوفية لصفاء أسرارهم، ونقاء ءاثارهم”.

Mengenai penamaan mereka dengan sebutan sufi, maka telah berkata sebagian dari para ahli :

“Sesungguhnya mereka disebut sufiyah karena keshafa-an (kemurnian) rahasia-rahasia mereka, dan kemurnian jejak-jejak/kemuliaan mereka”


وقال ءاخرون: “إنما سموا صوفية لقرب أوصافهم من أوصاف أهل الصفة الذين كانوا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فمن باطنهم الموصوف بالصفاء، ومن لبسهم وزيهم سموا صوفية،

لأنهم لم يلبسوا لحظوظ النفس ما لان مسه وحسن منظره، وإنما لبسوا لستر العورة، فاكتفَوا بالخشن من الشعر والغليظ من الصوف”.

Dan berkata sebagian lainnya:

Sesungguhnya mereka disebut sufiyah karena dekatnya sifat-sifat mereka dengan ahlu suffah.

Yaitu mereka yang ada pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka barangsiapa yang bathin mereka disifati dengan kemurnian, berpakaian, dan berhias dengan kemurnian tersebut, maka mereka disebut sufiyah.

Karena sesungguhnya mereka tidak berpakaian  dengan kecenderungan an-nafs, juga bukan untuk pamer. Mereka berpakaian untuk menutup aurat.

Maka mereka mencukupkan diri dengan memakai pakaian yang terbuat dari dari bahan-bahan yang kasar dan yang tebal.

(Artinya walaupun  pakaiannya dari bahan-bahan yang murah, yang tidak bisa dibuat pamet, asal dapat menutup aurat maka itu sudah cukup bagi mereka)”.


ثم هذه كلها صفة أهل الصفة الذين كانوا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنهم كانوا غرباء فقراء مهاجرين، أخرجوا من ديارهم وأموالهم ووصفهم أبو هريرة وفضالة بن عُبيد فقالا:

“يَخِرُّون من الجوع حتى تحسبهم الأعراب مجانين”، وكان لباسهم الصوف فلما كانت هذه صفة أهل الصفة في حالهم وزيهم سموا صوفية وصُفية، وسماهم قوم فقراء، لأن أحدهم لا يملك شيئًا وإن ملكه بذله وذلك لتخليهم من الأملاك.

Kemudian kesemuanya itu adalah sifat dari Ahlu Suffah yang ada pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mampu dari golongan Muhajirin.

Mereka telah meninggalkan negeri-negeri dan harta-harta mereka. Abu Hurairah dan Fadhalah bin ‘Ubaid menyebutkan sifat-sifat mereka:

“Mereka orang-orang yang kelaparan, sehingga masyarakat arab pada waktu itu menyangka mereka adalah orang-orang gila”.

Dan pakaian mereka adalah wol. Pada waktu itu begitulah sifat ahli sufah. Karena gambaran mereka dan pakaian mereka seperti itu mereka kemudian disebut sebagai suufiyah atau sufiyah.

Dan mereka juga dikenal dengan sebutan kaum fuqara’. Karena sebagian dari mereka ada yang tidak mempunyai apapun.

Keadaan mereka seperti itu karena mereka telah menyerahkan apapun yang mereka miliki”.

Tasawuf mengkaji mengenai maqam Ihsan, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadits:

وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ، قَالَ زُهَيْرٌ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ، فَقَالَ:

يَا رَسُولُ اللهِ، مَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكِتَابِهِ، وَلِقَائِهِ، وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْإِسْلَامُ؟ قَالَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ»

قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْإِحْسَانُ؟ قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهَ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: ” مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْأَمَةُ رَبَّهَا، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ تَلَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

{إِنَّ اللهِ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} [لقمان: ٣٤]

” قَالَ: ثُأَدْبَرَ الرَّجُلُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رُدُّوا عَلَيَّ الرَّجُلَ»، فَأَخَذُوا لِيَرُدُّوهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُمْ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin  Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, semuanya dari Ibn ‘Ulayah, Zuhair berkata:

telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, dari Abi Hayan dari dari Abi Zur’ah bin ‘Amru bin Jarir dari Abu Hurairah dia berkata,

“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kalian bertanyalah kepadaku’. Namun mereka takut dan segan untuk bertanya kepada beliau.

Maka seorang laki-laki datang lalu duduk di  hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,  mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’.

Dia berkata, ‘Kamu benar’.

Lalu dia bertanya lagi,  ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada  Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih mengetahui jawaban-Nya daripada orang yang bertanya, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya;

yaitu bila kamu melihat hamba wanita melahirkan tuan-Nya. Itulah salah satu tanda-tandanya.

(Kedua) bila kamu melihat orang yang tanpa alas kaki  telanjang, tuli, bisu menjadi pemimpin (manusia) di bumi. Itulah salah satu tanda-tandanya.

(Ketiga) apabila kamu melihat penggembala kambing saling berlomba tinggi-tinggian dalam (mendirikan) bangunan.

Itulah salah satu tanda-tandanya dalam lima tanda-tanda dari  kegaiban, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, ”

kemudian beliau membaca: ‘(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.

Dantiada  seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-Nya besok.

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) ” (Qs. Luqman: 34).

Kemudian laki-laki  tersebut bangun (mengundurkan diri), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Panggillah dia menghadapku! ‘

Maka dia dicari, namun mereka tidak mendapatkan-Nya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Laki-laki ini  adalah Jibril mengajarkan kepada manusia tentang agamanya.” (Shahih Muslim, Muslim bin Hajaj, Juz. 1, hlm. 39, hadits. 9, penerbit. Darul Ihya’ Turats Al-‘arabi, Beirut)

Pada maqam Iman dikaji mengenai aqidah, dalam maqam Islam dikaji mengenai fiqih, dan pada maqam Ihsan dikaji mengenai kemurnian peribadahan dan pengabdian terhadap Yang Maha Kuasa.

Dalam tasawuf dikaji agar manusia sampai kepada derajat ihsan, yaitu detajat dimana manusia selalu merasakan kehadiran Yang Maha Agung.

Sehingga ketika manusia sedang beribadah, maka manusia tersebut merasa bahwa Yang Maha Kuasa berada dihadapannya dan dia menyaksikan keberadaan tersebut.

Jika tidak bisa sampai derajat tersebut setidak sampai kepada kesadaran bahwa Tuhan selalu mengawasi setiap gerak langkahnya.

Jika manusia sudah sampai kepada derajat Ihsan maka setiap rasa, lisan, dan geraknya akan selalu terjaga dari segala kemaksiatan yang disengaja.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Mazhab Dalam Tasawuf

Dalam kajian apapun pada setiap zaman dalam kehidupan manusia selalu terjadi adanya perbedaan pendapat atau perbedaan metode dalam mewujudkan ‘produk’ dari kecerdasannya.

‘Produk’ dari kecerdasan manusia dalam dunia kajian fiqih islam disebut fatwa.

Proses untuk mewujudkan ‘produk’ tersebut dikenal dengan sebutan istinbath. Konsep yang menjadi sistem dari teori-teori pewujudan ‘produk’ disebut ijtihad.

Para ilmuwannya disebut mujtahid. Para pengikutnya dikenal dengan sebutan muqallid. Dan pusat dimana para mujtahid berkumpul dikenal dengan sebutan mazhab.

Dalam kajian fiqih Islam dikenal banyak mazhab seperti mazhab Ja’fari, Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i, Zahiri, Tsauri, dan lain-lain.

Seperti dalam kajian ilmu fiqih, dalam dunia kajian tasawuf juga terdapat banyak mazhab. Mazhab dalam tasawuf dikenal dengan sebutan thariqah.

Sedangkan ilmuwannya disebut sebagai Sufi, mursyid, murrabi, dll. ‘Produknya’ dikenal dengan sebutan aurad, wafaq, dzikr, wirid, hizb, dan istilah-istilah lainnya.

Prosesnya untuk mewujudkan ‘produknya’ dikenal dengan sebutan riyadhah, suluk, khalwat, dll. Para pengikutnya disebut salik, murid, mursyad, dll.

Di mana tiap-tiap thariqah mempunyai teori, metode, dan ‘teknologi’ masing-masing dalam kajian bertasawufnya.

Beberapa thariqah yang terkenal di dunia menurut data dari Islam.uga.edu dan Marefa.org adalah:

  • Thariqah Malamatiya,
  • Yasawiya – Ahmet Yasawi ,
  • Kubrawiya (and Oveyssi)- Najm al-Din Kubra,
  • Qadiriya – ‘Abd al-Qadir Jilani,
  • Rifa’iya – Ahmet Rifa’i,
  • Mevleviye – Jalal al-Din Rumi,
  • Bektashiye – Haji Bektash Veli,
  • Naqshbandiya – Baha’ al-Din Naqshband,
  • Ni’matallahiya – Shah Ni’matallah Vali,
  • Bayramiye – Haji Bayram Veli,
  • Chishtiya – Mu’in al-Din Chishti,
  • Shadhiliya – Abu al-Hasan al-Shadhili,
  • Khalwatiya – ‘Umar al-Khalwati,
  • Tijaniya – Ahmad al-Tijani,
  • Muridiyya – Ahmadu Bamba, Qalandariya,
  • … dan masih banyak lagi. Pembahasannya memerlukan artikel tersendiri.

Membongkar Ilmu Tasawuf: yang dipelajari Ilmu Tasawuf ?

Mengenai apa saja yang dipelajari dalam tasawuf itu pun sangat luas pembahasannya.

Saya ambil contoh beberapa kajian tasawuf yang ada dalam kitab Futuhat Al-makiyah karya Ibn ‘Arabi dan Ihya ‘Ullumudin karya Al-ghazali.

Yang saya kira cukup untuk menjadi gambaran mengenai apa saja yang dikaji dalam ilmu tasawuf.

Dalam kitab Futuhat, dikaji mengenai makrifat huruf, martabat huruf, makrifat permulaan bentuk tubuh manusia, makrifat bumi, makrifat ruh, makrifat wujud durratul mulk, makrifat pembawa arasy, makrifat zaman, makrifat qiyamah, asrar thaharah, makrifat asrar sholat, dan lain-lain.

Dikaji juga mengenai jumlah tempat-tempat para wali, sifat Adam, makrifat taubat, makrifat mujahadah, makrifat khalwat, makrifat taqwa, makrifat takut pada neraka, makrifat yang fardhu dan yang sunnah, dan lain-lain.

Dibahas juga mengenai bentuk arsy dan kursyi, tanah mahsyar, jahanam dan pintu-pintunya, makrifat tempat turun Al-qur’an, tempat turun malaikat, makrifat Asmaul Husna, dan lain-lain. (Futuhat Al-makiyah, Ibn ‘Arabi, Juz. 1-4)

Dalam Ihya dikaji mengenai, keutamaan ilmu, bagaimana sikap guru ke murid, bagaimana sikap murid ke guru, rahasia wudhu, rahasia shalat, rahasia zakat, rahasia haji, kitab tentang tipuan, kitab taubat, kitab syukur, kitab khauf dan raja’, kitab fakir dan zuhud, dan masih banyak lagi.

Selain dari kedua kitab di atas masih banyak kitab-kitab tasawuf lain dengan ragam variasi, kedalaman, kerumitan, dan jenis kajian yang berbeda.

 

Kitab-kitab Tasawuf

Berikut beberapa kitab karya para sufi yang dapat dibaca untuk dijadikan sebagai rujukan jika ingin mengkaji mengenai tasawuf. Di antaranya:

  • Futuhat Al-makiyah karya Ibn ‘Arabi
  • Rasa’il Ibn ‘Arabi, karya Ibn ‘Arabi
  • Fushush Al-hikam, karya Ibn ‘Arabi
  • Syarah Fushush Al-hikam, karya Sayyid Jalaludin Istisyayani
  • Anwarul Qudsiyah, karya Imam Al-‘alamah ‘Abdul Wahab Asy-sya’rani
  • Qutul Qulub, Abu Thalib Al-makiy
  • Ar-risalah Al-qusyairiyah, karya Imam Abi Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazan Al-qusyairi
  • Ihya ‘Ullumuddin karya Al-ghazali
  • Awariful Ma’arif, karya Syaikh Al-isyraq As-suhrawardi
  • Hayakal An-nur, karya Syaikh Al-isyraq As-suhrawardi
  • Al-ghunyah, karya Syaikh ‘Abdul Qadir Al-jailani
  • Fathul Rabbani, karya Syaikh ‘Abdul Qadir Al-jailani
  • Tahdzibul Asrar, ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Ibrahim An-naisaburi Al-kharkusi
  • Dzikru Niswah, karya Abi ‘Abdurrahman As-sulami
  • Hilyatul Auliya, karya Al-hafiz Abi Na’im Ahmad bin ‘Abdullah Al-isfahani Asy-syafi’i
  • Mantiqu Ath-thair, karya Farirudin Ath-thar An-naisaburi
  • Al-hikam, karya Ibn Athaillah As-sakandari
  • Dan masih banyak lagi.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Ilmu Irfan

Ilmu Irfan. Dalam tulisan di atas saya telah membahas mengenai ilmu  tasawuf.

Yaitu sebagai sebuah teknologi ilmu yang menjadi bagian dari hasil kecerdasan-kecerdasan manusia yang berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh ruhani mereka. Sekecil apapun itu.

Ilmu pengetahuan tersebut selain dikenal dengan sebutan tasawuf, dikenal juga dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut.

Ilmu ini dikenal juga dengan sebutan hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dll.

Nah pada bagian ini saya akan membahas tentang ilmu tasawuf irfani, atau ilmu irfan, atau ilmu tasawuf filsafat, dan lain-lain.

Untuk kajian ilmu lainnya seperti Mysticism, Spirituality, Kabuhunan, Hikmah, dan lain-lain, semoga saya bisa membahasnya pada kesempatan yang lain. Selamat membaca.

Membongkar  Ilmu Tasawuf: Apakah Ilmu Itu ?

Irfan menurut bahasa

تعريف علم العرفان

العرفان في اللغة مشتقّ من “عَرَفَ”، ويُعْنى به المعرفة. يقول ابن منظور: “عرف: العرفان: العلم… عَرَفَه، يَعْرِفُهُ، عِرْفَة وعِرْفاناً وعِرِفَّاناً وَمَعْرِفَةً واعترفه… ورجل عروفٌ: وعَروفة: عارف يعرف الأمور، ولا ينكر أحداً رآه مرة… والعريف والعارف بمعنى مثل عليم وعالم… والجمع عرفاء…”

Kata irfan menurut bahasa adalah derivatif dari kata عرف yang diketahui darinya kata makrifat ( المعرفة). Menurut Ibn Manzhur: “ ‘Arafa: Al-‘irfan sama dengan kata Al-‘ilmu

Arafahu, ya’rifuhu, ‘irfah wa ‘irfaanan wa ‘irifaanan wa ma’rifatan wa i’tirafahu…

contoh kata rajulun ‘aruufun atau ‘aruufah bermakna seorang yang berpengetahuan yang mengetahui banyak hal, dan pengetahuannya tersebut tidak ditolak oleh seorang pun.

Sedangkan kata Al-‘ariif dan Al-aarif itu semakna dengan ‘Aliim dan ‘Aalim… dan kata jamaknya adalah ‘Urafa

Terjemahan mudahnya kata Irfan menurut bahasa adalah pengetahuan yang kuat, tinggi, atau mendalam.

Irfan menurut Istilah

العرفان في الاصطلاح عبارة عن المعرفة الحاصلة عن طريق المشاهدة القلبية، لا بواسطة العقل ولا التجربة الحسّية… وهذا اللون من المعرفة يحصل في ظلّ العمل المخلص بأحكام الدين، وهو الثمرة الرفيعة والنهائية للدين الحقيقي

وعلى هذا الأساس قدَّم أصحاب الاختصاص تعاريف متعدّدة للعرفان، من أبرزها ما جاء على لسان القيصري: “هو العلم بالله سبحانه، من حيث أسماؤه وصفاته ومظاهره وأحوال المبدأ والمعاد والعلم بحقائق العالم وبكيفيّة رجوعها إلى حقيقة واحدة، هي الذات الأحدية

Kata Al-‘irfan menurut istilah adalah pengenalan atau pengetahuan yang didapatkan dari jalan kesaksian hati atau rasa. Tanpa perantaraan akal dan capaian indera.

Dan yang seumpama ini adalah bagian dari makrifat yang didapatkan dalam naungan amal yang ikhlas dengan hukum-hukum agama.

Keadaan tersebut adalah hasil yang tinggi (pencapaian yang luar biasa) dan puncak dari agama secara hakikat.

Atas dasar ini, para ahli menyajikan berbagai definisi irfan, yang paling menonjol di antaranya adalah kata-kata Al-qusyairi:

 “Ini adalah ilmu tentang Allah Yang Maha Suci, dalam hal nama, atribut dan manifestasi, mabda’ dan ma’ad, pengetahuan tentang realitas semesta dan bagaimana kembalinya kepada realitas yang satu, yaitu Dzat Yang Memiliki Sifat Tunggal”.

Pembagian ilmu irfan

أقسام العرفان

يظهر من التعريف المتقدّم أن العرفان يقسم قسمين: العرفان النظري، والعرفان العملي.

أمّا العرفان النظري، فهو العلم بالله تعالى وأسمائه وصفاته وتجلّياته. ويُراد منه إعطاء رؤية كونية عن المحاور الأساسية في عالم الوجود، وهي “الله” و”الإنسان” و”العالم”.

والعرفان العملي عبارة عن العلم بطريق السير والسلوك، فمن أين يبدأ، وإلى أين ينتهي، وما هي المنازل والمقامات التي يجب أن يسلكها العارف للوصول إلى الله تعالى، وكيفيّة مجاهدة النفس للتغلّب على ميولها وتحريرها من علائقها، حتى تستطيع طيّ المراحل والجدّ في سيرها إلى الله تعالى

Dalam kajiannya, ilmu Irfan terbagi kepada dua bagian, yaitu:

  1. Irfan Nazhriyyi
  2. Irfan ‘Amaliy

Ilmu Irfan Nazhriyyi

Adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya). Yang dimaksud dari kesemuanya tersebut adalah anugerah pengetahuan mengenai kemaujudan melalui poros utama keberadaan wujud. Yaitu Allah, Insan, dan Alam.

Ilmu Irfan ‘Amaliy

Adalah seperti pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala.

Kemudian pengetahuan mengenai cara-cara mujahadah nafs (perjuangan diri) untuk mengendalikan kecenderungan mereka dan pembebasan mereka dari segala ketergantungan.

Sehingga mampu melewati tahapan-tahapan dengan kesungguhannya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala.

 

Contoh Kajian Ilmu Irfan dalam ayat

QS. Al-A’rāf : 46

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A’raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk)”. 

Dalam kajian makrifat irfan ya’rifuna orang beriman dapat terjadi di dunia.

Orang-orang khusus dari kalangan orang beriman dan orang-orang khusus dari kalangan zhalimin akan sangat ya’rifuna terhadap kawan dan lawannya. Karena mereka memiliki ageman pemgetahuan khusus masing-masing.

 

QS. Al-Mu’minūn : 69

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka (Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?”

Ya’rifuu pada ayat ini dalam kajian makrifat irfan adalah ketika murid mengenal murad, mursyid mengenal mursyad, ‘alim mengenal jahil, dan lain-lain.

Juga ketika tiap manusia yang berkemampuan khusus mampu ya’rifuu terhadap alam sekitarnya.

Mampu musyahadah ketika bagaimana tanah, air, dedaunan, pepohonan, ilalang, batu, debu, dan lain-lain saling berkomunikasi antara satu dengan lainnya.

 

QS. An-Naml : 41

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ

Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi.”

Dalam kajian makrifat irfan ayat ini berhubungan dengan kajian manusia dalam jirim raga ruhani muanats berusaha untuk mengenal manusia dalam jirim raga ruhani mudzakar.

Baik ghaibnya atau mukhatabnya, baik tinggalnya atau jamaknya.

Baik jirim raga manusia tersebut adalah dirinya sendiri, maupun jirim raga manusia selain dirinya.

 

QS. Luqmān : 34

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal”.

Ilmu sa’ah pada ayat di atas dalam kajian makrifat irfan terbagi kepada tiga. Dimana dari tiga bagian tersebut tiap satu bagiannya terbagi kepada 9000 bagian.

Yang jika ditotal 9000×3, maka menjadi 27000 bagian.  Kemudian pada tiap 1 bagian dari yang 27000 tersebut ada tingkatan dan levelnya masing-masing.

Yang kesemuanya hanya orang-orang terpilihlah yang mampu mencapainya.

Dalam ilmu tersebut terkandung inti dari segala ilmu pengenalan wujud, baik wujud cabang maupun wujud pusat.

Baik itu wujud primer maupun wujud sekunder atau tertier. Dan semua cabang dari wujud-wujud tersebut, dan masih banyak lagi.

Dan lain-lain…

 

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits Syi’ah Imamiyah

Dari Al-kafi, Al-kulayni

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن الحجال، عن ثعلبة بن ميمون، عن عبد الاعلى بن أعين قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام من لم يعرف شيئا هل عليه شئ؟ قال: لا

Dari segolongan sahabat-sahabat kami, dari Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa, dari Al-hujal, dari Tsa’labah bin Maimun, dari ‘Abdul A’la bin A’yun berkata: Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah AS: “Bagi orang yang tidak makrifat terhadap sesuatu adakah baginya sesuatu ?” beliau menjawab: ‘tidak’’.

Dalam salah satu kajian irfan, hadits ini membahas mengenai keseimbangan kewajiban seorang manusia dengan tingkat kemakrifatannya tentang sesuatu.

Dan masih panjang lagi …

 

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits Ahlussunnah

Dari Musnad Imam Ahmad

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِالسُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَأَنْظُرَ إِلَى بَيْنِ يَدَيَّ فَأَعْرِفَ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ وَمِنْ خَلْفِي مِثْلُ ذَلِكَ وَعَنْ يَمِينِي مِثْلُ ذَلِكَ وَعَنْ شِمَالِي مِثْلُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ فِيمَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَى أُمَّتِكَ قَالَ هُمْ غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ لَيْسَ أَحَدٌ كَذَلِكَ غَيْرَهُمْ وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ وَأَعْرِفُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ذُرِّيَّتُهُمْ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ شَكَّ فِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ أَوْ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ يَحْيَى فَيَقُولُ فَأَعْرِفُهُمْ أَنَّ نُورَهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ حَدَّثَنَا يَعْمَرُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا ذَرٍّ أَوْ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Abdurrahman bin Jubair dari Abu Darda` ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akulah orang yang pertama kali diizinkan untuk sujud dan mengangkat kepala pada hari Kiamat, dengan itu aku dapat melihat dan mengenali umatku diantara umat-umat sebelumku, baik dari arah depan, belakang, sebelah kanan dan kiriku.”

Seseorang berkata kepada beliau; wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana engkau dapat mengenali umutmu diantara umat-umat sebelummu, dari umatnya nabi Nuh sampai umatmu?, ” Beliau menjawab: “Wajah umatku berseri-seri disebabkan bekas air wudhu, dan tidak ada seorang pun yang menyerupainya kecuali ummatku. Dan aku juga mengenali umatku, yaitu diberikannya kitab dari tangan kanan, serta anak keturunan mereka berjalan disisi kanan kirinya.”

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq -dia ragu dalam periwayatannya- ia berkata; ‘Aku mendengar Abu Dzar atau Abu Darda` berkata; Yahya mengatakan; “Aku mengenalinya dengan tanda cahaya menyinari bagian depan dan kanannya.”

Telah menceritakan kepada kami Ya’mar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bn Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair bahwa ia mendengar Abu Dzar atau Abu Darda` berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akulah manusia yang pertama kali diberi izin untuk sujud.” Lalu ia menyebutkan makna hadits di atas.

Dalam kajian makrifat irfan, hadits ini mengenalkan konsep kesadaran wujudi yang mumpuni dari Rasulullah.

Rasulullah SAW memberitahukan bahwa beliau mampu mengenal umatnya di alam akhirat dengan melihat dari bekas wudhunya.

Padahal secara kasat mata manusia biasa bekas wudhu yang keliatan itu ya basah. Padahal tidak semua basah itu adalah bekas wudhu.

Tapi Rasulullah melihat bekas wudhu itu sebagai wujud rupa yang berseri-seri, dan bekas wudhu umat Rasulullah dapat beliau bedakan dengan bekas wudhu umat sebelum umat beliau.

Dan masih panjang lagi kajian mendalamnya. Itu hanya gambaran umumnya saja.

Sebagaimana tiap ayat dalam kitab suci adalah bagian dari kajian ilmu ‘irfan, maka begitu pula tiap hadits yang ada dalam kitab-kitab hadits ada kajian ‘irfannya.

Dalam kajian makrifat ‘irfan, semua ayat Al-qur’an itu termasuk kepada bagian yang utama dalam kajian. Dan kajian ‘irfan-pun membahas mengenai tiap ayat yang dalam kitab-kitab suci berbagai agama. Semoga dalam kesempatan yang lain saya mampu membahasnya .

Ayat  Al-qur’an dan hadits yang saya cantumkan di atas adalah sebagai gambaran umum saja mengenai keberadaan ilmu irfan dalam ayat dan hadits. 

Walaupun mungkin bagi yang belum terbiasa dengan metodologi  kajian makrifat dan irfan akan terlihat sebatas isyarat yang kuat saja.

Kemudian bahasan yang saya tulis untuk menyertai kutipan ayat dan hadits di atas adalah kajian saya bersama almarhum Abah.

Tiap guru, mursyid, murrabi, mentor, dan lain-lain mempunyai konsep dan sistemnya sendiri dalam menyampaikan kajian. Jadi apa yang saya dapatkan sangat mungkin berbeda dengan yang orang lain dapatkan.

Penjelasan dari sisi apa yang saya dapat di atas merupakan salah satu contoh saja dari sekian banyak metodologi mengenai kajian makrifat dan irfan ketika mengkaji ayat dan hadits.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Yang Dikaji Dalam Ilmu Irfan ?

Seperti apa yang telah dijelaskan di atas yang dipelajari dalam ilmu irfan adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya).

Yang dimaksud dari kesemuanya tersebut adalah anugerah pengetahuan mengenai kemaujudan melalui poros utama keberadaan wujud. Yaitu Allah, Insan, dan Alam. Yang kesemuanya ada dalam kajian ilmu irfan nazhriyi.

Dan  pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala.

Kemudian pengetahuan mengenai cara-cara mujahadah nafs (perjuangan diri) untuk mengendalikan kecenderungan mereka dan pembebasan mereka dari segala ketergantungan.

Sehingga mampu melewati tahapan-tahapan dengan kesungguhannya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala. Kajian ini ada dalam ilmu irfan ‘amaliy.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Irfan dan Tasawuf

Menurut kitab Irfanu Ash-shufiy ‘inda Jalaludin Ar-rumi, karya Farahnaz bahasan irfan menitik beratkan kepada konsep berfikir yang kuat, rumit, mendalam, dan  tinggi dalam menyingkap Makrifat Al-haq, hakikat-hakikat rupa dan bentuk,   rahasia-rahasia rumuz, rahasia-rahasia semesta dan lain-lain.

Sementara tasawuf adalah ilmu yang mengkaji masalah pembersihan diri, kesempurnaan akhlak, pemeliharaan kezuhudan, penolakan ketergantungan terhadap dunia, dan lain-lain.

Jika dibandingkan dengan apa yang telah dibahas pada paragraf sebelumnya dapat dipahami bahwa ilmu irfan yang digambarkan Farahnaz itu termasuk kepada ilmu irfan nazhriyi.

Sedangkan tasawuf yang digambarkan oleh Farahnaz termasuk ke dalam teritori  ilmu irfan ‘amaliy.

Pada era sekarang Ilmu irfan lebih terkenal masyhur dalam dunia kajian syi’ah.

Tapi sebenarnya apa yang dikaji dalam ilmu irfan itu sama dengan apa yang dikaji dalam ilmu tasawuf.

Jadi bisa dikatakan bahwa ilmu irfan itu adalah ilmu tasawufnya orang syi’ah.

Sedangkan bagi Ahlu Sunnah, kajian irfan menjadi bagian dari kajian tasawuf.

Dengan artian dalam dunia Ahlu Sunnah, kajian ilmu irfan ada dalam kajian ilmu tasawuf.

Terkadang ada yang menyebutnya dengan istilah tasawuf filsafat. Tapi memang umumnya Ahlu Sunnah lebih mengenal ilmu tasawuf ketimbang ilmu irfan.

Kitab-kitab Ilmu Irfan

Bagi Ahlu sunnah pada dasarnya tiap kitab yang mengkaji tasawuf pasti di dalamnya ada kajian atau menyentuh ilmu irfan. Kitab-kitab seperti Al-hikam, Ihya, Fath Ar-rahman, Mantiq Ath-thair, Al-matsnawi, futuhat Al-makiyah, dan lain-lain di dalamnya terdapat kajian-kajian irfan yang luar biasa untuk dikaji.

Dalam syi’ah imamiyah, kajian ilmu irfan itu sendiri sebenarnya ada dalam kitab-kitab filsafat, dimana apa yang dibahas di dalamnya  menyentuh kajian irfan nazhriyi. Kitab-kitab seperti bidayatul hikmah, nihayatul hikmah, Usfur, dan lain-lain.

Sedangkan untuk irfan ‘amaliy dibahas dalam kitab-kitab akhlaqiy, kitab-kitab syarah do’a, dan kitab-kitab syarah hadits.  Seperti kitab tuhaful ‘uqul, ilal syara’i, syarah nahjul, syarah al-kafi, syarah kumail, syarah shahifah sajadiyah, dan lain-lain.

 

Membongkar Ilmu Tasawuf: Kalimat Penutup

Yang telah kita diskusikan bersama dalam artikek Membongkar Tasawuf ini adalah bahwa kecerdasan-kecerdasan manusia berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh jasadi mereka. Sekecil apapun itu.

Lalu bagaimana dengan sesuatu yang dapat  mengganggu kesehatan jasad ruhani, apakah kecerdasan-kecerdasan manusia juga menciptakan teknologi untuk menyikapinya ?

Jawabannya adalah Ya. Manusia dengan kecerdasannya telah menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk menyikapi hal tersebut.

Ilmu pengetahuan itu dikenal dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu ini dikenal dengan sebutan tasawuf, hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dll.

Kemudian dalam artikel Membongkar Ilmu Tasawuf ini telah kita ketahui secara mendasar mengenai tasawuf menurut bahasa dan menurut Istilah. 

Dalam artikel Membongkar Ilmu Tasawuf ini telah pula kita ketahui mengenai ragam mazhab dalam tasawuf, apa saja yang dipelajari dalam tasawuf, dan kitab apa saja yang dapat dirujuk.

Telah juga kita bahas bersama dalam artikel Membongkar Ilmu Tasawuf ini bahwa terjemahan mudahnya kata irfan menurut bahasa adalah pengetahuan yang kuat, tinggi, atau mendalam.

Kemudian menurut istilah para ahli menyajikan berbagai definisi irfan, yang paling menonjol di antaranya adalah kata-kata Al-qusyairi:

“Ini adalah ilmu tentang Allah Yang Maha Suci, dalam hal nama, atribut dan manifestasi, mabda’ dan ma’ad, pengetahuan tentang realitas semesta dan bagaimana kembalinya kepada realitas yang satu, yaitu Dzat Yang Memiliki Sifat Tunggal”.

Kemudian dalam kajiannya, ilmu Irfan terbagi kepada dua bagian, yaitu:

  1. Irfan Nazhriyyi
  2. Irfan ‘Amaliy

Irfan Nazhriyyi adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya).

Dan irfan ‘Amali adalah seperti pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala.

Kemudian dalam artikel Membongkar Ilmu Tasawuf ini telah disampaikan beberapa contoh dalil dari ayat dan hadits.

Dengan disertai contoh kajian dari sisi ahlu sunnah dan syi’ah imamiyah. Apa bedanya irfan dengan tasawuf secara umum juga telah dibahas. Dan contoh kitab-kitab yang mengkajinya sudah disampaikan.

 

Infografis Artikel Membongkar Ilmu Tasawuf

 


Yupz … sekian tulisan Membongkar Ilmu Tasawuf.

Dengan segala kekurangan yang ada, semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Dapat menambah pengetahuan bagi yang belum tahu. Sebagai daras ulang bagi yang sudah tahu. Dan menjadi welas asih bagi yang telah sampai kepada maqamnya.

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya, saran dan opini yang membangun sangat saya apresiasi. Salam damai selalu. Cheers…

KLepus… whuUuZz


Sumber:

  1. Al-qur’an Al-karim
  2. The Vital Edge
  3. Ranker
  4. Al-maany
  5. Soufiyyah.org
  6. Shahih Muslim, Imam Muslim, Juz. 1, hlm. 39, hadits.9, Darul Ihya’ Turats ‘Arabi, Beirut.
  7. Fawzyabuzeid
  8. Islam.uga.edu
  9. Marefa.org
  10. Futuhat Al-makiyah, Ibn ‘Arabi, juz. 1-4
  11. Ihya ‘Ulumuddin, Al-ghazali, hlm. 1-1963, Darul Ibn Hazm, thn. 1426H/2005M
  12. Al-kafi, Al-kulayni, Juz. 1, hlm. 116, hadits no. 2, Penerbit. Darul Murtadha, Beirut-Libanon,  cetakan. 1, thn. 1426H/2005M
  13. Musnad Imam Ahmad, juz. 36, hlm. 64-65, hadits. 21736, Penerbit. Mu’asasah Ar-risalah, cetakan. 1, thn. 1421 H/ 2001 M
  14. Irfanu Ash-shufiy ‘Inda Jalaludin Ar-rumi, Farahnaz, hlm. 195-196, Penerbit. Darul Hadi, cetakan. 1, thn. 1429H/2008M
  15. At-tashawwuf Al-islam Min Ar-rumzi Ila Al-‘irfan, DR. Muhammad bin Barikah, 375-387,  Penerbit. Dar Al-moutoon, cetakan. 1, thn. 1427 H/2006 M
  16. Mabadi’ ‘Ilmu ‘Irfan, Markaz Nun Li Ta’rif wa Tarjamah, hlm. 17-20, Jam’iyah Al-ma’arif Al-islamiyah Ats-tsaqafiyah, cetakan. 1, thn. 1437 H/2014 M
Facebook Comments
error: Content is protected !!