Pulang

Dari tiada menjadi ada, kemudian menjadi tiada lagi dan ada lagi. Betapa pengenalan mengenai hidup dengan konsep seperti itu sangat di kutip dalam akal-akal umum.

Pernahkah terpikirkan bahwa sebenarnya manusia itu dari dahulu adalah ‘penghuni’ keberadaan yang tiada ketiadaan, kemudian kesadaran akan keberadaan itu tertutupi oleh pengalaman-pengalaman yang dipilih manusia dalam kehidupanya, dimana ketertutupan pengenalan akan sang keberadan awal hanya sebagian kecil yang kembali terbuka kembali.

Pada masa sakaratul maut itulah posisi pencapaian kesadaran diri di alam yang serba tertutup ini akan di rasakan, dan barulah beberapa unsur diri terbangun dalam penyesalan akan ketertutupannya dari sang kesadaran awal.

Tergantung manusianyalah kepemilihan akan mau sadar atau tidaknya sang akal, mau disadarkankah sang akal atau sudah puas-puas saja dengan keserba-tertutupan dan serba-ketertidurannya akal dan hati. 

yaaa manusia… diciptakan dalam keadaan ahsani taqwim, tentunya sangat layak jika kembali ke asal penciptaan yaitu keahsanian dan ketaqwiman, yang di kenal umum dengan sebutan kembali ke fitrah atau iedul fitri, hmm … tapi hanya sedikit yang bisa dan mau ‘ pulang kerumah’ dalam keadaan tenang. 

Karena mungkin sudah terlalu betah hidup di hutan belantara ini atau karena tersesat tak tahu jalan pulang karena sudah terlalu jauh masuk ke belantara yang memikat ini.

“Hai jiwa-jiwa yang tenang, pulanglah, kembalilah ke ‘rumahmu’, tempat kamu bermulai dan seharusnya tempat kamu berakhir pula .., merantaulah dengan dan dalam keadaan tenang, kemudian pulanglah dengan dan dalam keadaan tenang pula”.


Photo under license of Pixabay.com

Share the knowledge ✓

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.