Sharaf, Menghisab Diri Melalui Ilmu Ini

 

Pada artikel kali ini saya akan sedikit membahas mengenak kajian makrifat dari sisi ilmu sharaf berdasarkan atas apa yang telah saya dapatkan dari kajian ilmu tasawuf dan Irfan . Selamat membaca.

 

Sharaf dan Tashrif

Dalam ilmu sharaf ada yg namanya tashrif, ada sekitar 36-an bab tashrif. Nah tashrif adalah proses perubahan kata dalam bahasa Arab dimana ketika kata sudah berubah bentuknya dengan penambahan huruf dan perubahan letak harakat, maka maknanya berubah seiring perubahannya. 

Dalam kehidupan, setiap kata, yang keluar menjadi tulisan atau lisan, maka itu akan menjadi jalan bagi sang pengucap, pembaca atau pendengar menuju qada dan qadar diri mereka. 

Kehati-hatian menganalisa kata dlm Al-qur’an dengan menjadikan ilmu sharaf sebagai wazan dan Al-qur’an menjadi mauzun

Sehingga tidak ada kesalahan dalam memahami arah kata dalam ayat. Agar tidak salah memahami tujuan kata dalam ayat. Tidak salah memahami siapa dan apa target kata dalam ayat. Dan dapat dipahami kata dalam Al-qur’an itu masuk ke dalam bab apa, tsulatsi, ruba’i, mujarad,a mazid, dll.

 

Ejawantah Sharaf dan Tashrif

Dalam kehidupan manusiapun sama. Setiap kata yang keluar dari tulisan dan lisan seseorang, maka kata tersebut  akan menjadi wazan dan sang pengucap atau penulis akan menjadi mauzun

Ketika mauzun sudah ditimbang sang wazan, maka berproseslah tashrif hidup sang pengucap, penulis, pendengar dan pembacanya. 

Yang proses itu dikenal dengn istilah hisab, yg terteorikan dlm kalimat ” hasibu anfusakum qabla antuhasaba”. 

Kemudian tashrif hidup dan hisab hidup mengalir secara paripurna membentuk sebuah sistem mapan dalam hidup  yang dikenal dengan istilah qada dan qadar

Yang dimanunggalkan ke dalam satu kata, yang dikenal dalam masyarakat Sunni dengan sebutan taqdir. Atau dalam kalangan Syi’ah Imamiyah dikenal dengan istilah Al-‘adl.

 

Contoh Sharaf dan Tashrif Hidup

Dalam tashrifan yang ada sekitar 36 Bab, jika mampu mengimplementasikan makna dan rahasianya maka manusia  akan mampu menghitung dirinya dan manusia lainnya juga alam sekitarnya.

Contoh:

Menghitung diri dengan fi’il madhi dan fi’il mudhari, dengan wazan fi’il tsulatsi mujarad bab. 1. Fathah ‘ain fi’il madhinya dan dhamah ‘ain fi’il mudharinya.

فعل – يفعل

Fa’ala – yaf’ulu

Telah berbuat – sedang atau akan berbuat

Mulai hitung 7 lapis diri dengan wazan fi’il tsulatsi mujarad bab. 1 dari sudut 5 W dan 1 H.

  1. Apa yang telah, sedang, dan akan diri kerjakan ?
  2. Kapan yang telah, sedang, dan akan diri kerjakan tersebut ?
  3. Siapa diri sebenarnya dan siapa saja orang yang terjangkau oleh apa yang telah, sedang, dan akan diri kerjakan ?
  4. Kenapa diri melakukan hal yang telah, sedang, dan akan dikerjakan ?
  5. Dimana diri ketika telah, sedang, dan akan mengerjakan sesuatu tersebut ? Dimana tujuan diri ketika telah, sedang, dan akan melakukan ssesuatu tersebut ?
  6. Bagaimana diri mengerjakan sesuatu yang telah, sedang, dan akan dikerjakan tersebut ?

Nah jika telah dapat menghitung dirinya dengan yang tersebut di atas maka manusia akan tahu diri, apa saja yang telah, sedang, dan dirinya kerjakan. Akan paham kapan saja terjadinya tashrif diri pada hidupnya. 

Akan mengenal siapa saja diri yang terlibat dalam tashrif hidupnya, terdeteksi kenapa tashrif hidup dalam dirinya dapat terjadi,  terkonfirmasi dimana dia berada sekarang dan kemana akhir tashrif hidupnya. Dan kemudian akan sadar bagaimana sebab dan akibat segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan menimpa dirinya terjadi.

 

Memahami

Setelah proses hitung diri selesai, kemudian manusia dapat mengetahui, memahami, mengenali, mendeteksi, mengkonfirmasi, dan menyadari gerak tashrif madhi dan mudhari diri dan hidupnya. Maka dari situlah akan lahir sebuah kesadaran mapan yang disebut dalam dunia makrifat sebagai AKAL. 

Dimana jika AKAL tersebut sudah dapat membongkar ke-5 jenis pengetahuan manusia yaitu ‘ilmu , syak, wahm, zhan, dan jahl, maka akan lahirlah apa yang dikenal dalam dunia makrifat sebagai HATI atau RASA.

Yang kemudian jika AKAL dan RASA yang telah lahir tersebut berkesinambungan, dan terus ada secara konsisten dan kontinyu. 

Selalu bekerja beriringan dengan sistem yang ada dalam ke-7 lapis diri manusia, jasadi dan ruhaninya, maka akan lahir apa yang dikenal dalam dunia makrifat sebagai INDERA RUHANI.


Sekian artikel kali ini, semoga bermanfaat, dan salam damai selalu.

Cheeers… kLepus… whuUuZz

Facebook Comments
error: Content is protected !!