3 Kajian Mengenai Suami Adalah Imam Bagi Istri

Suami imam bagi isteri adalah kalimat yang sudah sangat terkenal dimasyarakat. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai 3 kajian yang mungkin perlu diketahui dalam hal tersebut. Selamat membaca.

 

Imam Bagi Istri

Imam bagi istri itulah salah satu tugas  utama suami, kalimat dengan  teks atau makna yang serupa dengan kalimat tersebut sudah sangat terkenal dalam kalangan masyarakat umum.

Pada dasarnya tidak semua pria mampu menjadi imam bagi istrinya, kadang malah ada yang menjadi makmum sang istri, kadang ada yang menjadi rival sang istri, bahkan kadang ada yang menjadi orang asing bagi istrinya sendiri.

 

Kemampuan Pilih Tanding

Kemampuan menjadi imam itu dalam kajian tasawuf , irfan, dan spiritual adalah kemampuan pilih tanding yang tidak sembarang pria mampu, karena imam yang dimaksud adalah bukanlah cuma tukang menghamili, tukang ngasih duit, tukang ceramah, tukang nasehat, tukang meluapkan napsu birahi dan segala pertukangan lainnya.

Dan kemampuan menjadi makmumpun bukan kemampuan yang biasa, kemampuan menjadi makmum yang baik dan rapih adalah kemampuan pilih tanding yang tidak semua perempuan bisa.

Perempuan itu bukan cuma tukang pasrah dihamili, tukang ngomel nyuruh suami cari duit, tukang cuci piring, tukang cuci baju, tukang pemuas nafsu bersetubuh suami, tukang selpi gossip di medsos dan pertukangan lainnya.

 

Ayat Imam

Ayat yang menjadi sandaran konsep dari doktrin ‘suami adalah imam bagi istri’ ini adalah berbahasa arab, diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, karena dalam bahasa indonesia belum menemukan atau belum ada padanan yang pas bagi alif lam makrifah yang menempel pada sebuah kata dalam bahasa ayat, maka terjemahan dan atau pemaknaan dari ayat tersebut tidak bisa dikatakan hanya ada satu terjemahan atau satu pemaknaan secara mutlak.

Ayat “Ar-rijalu qawwamuna ‘ala an-nisa” dalam terjemahan umum diterjemahkan;

1. Laki-laki (suami) adalah pelindung bagi wanita (isteri),
2. Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi wanita (isteri).

Ada alternatif terjemahan lain yaitu:

“Para pria khusus atau tertentu adalah penegak hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan segala sesuatu yang berkaitan dengan para perempuan, dan para perempuan ini adalah para perempuan khusus atau tertentu”.

Jadi dalam kalimat ayat ini tidak semua pria atau suami bisa qawwamuna ‘ala an-nisa dan tidak semua perempuan atau isteri bisa diqawamuna oleh ar-rijal.

Bedakan antara rijal nakirah dengan rijal makrifah, juga beda nisa nakirah dengan nisa makrifah.

Yang terjadi di dunia nyata memang sangat jauh dari ideal apa yang ayat ini ekspektasikan, karena ar-rijal itu jarang sebagaimana jarangnya an-nisa, yang banyak itu rijal dan nisa.

Dan konsep suami istri dalam ekspektasi ayat ini tidak bisa dikatakan menggambarkan kesuperioran para suami atas istri tapi justru bisa jadi menunjukan bahwa suami dan istri itu sama penting posisinya, rahasianya ada dalam kalimat ayat selanjutnya, yaitu :

“… bimaa fadhalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin…”

‘Dengan sesuatu yang Allah telah memberi kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lainnya’.

Jadi ketika sang ar-rijal ini sedang mengqawamuna sang an-nisa, akan tetapi sang ar-rijal ada kekurangan yang kekurangan itu ternyata bisa di tutupi oleh sang an-nisa, maka proses qawamunanya itu menjadi proses saling mengqawamuna antar keduanya.

Jika proses-proses saling mengqawamuna antara ar-rijal dan an-nisa ini berkesinambungan dengan baik dan rapih maka jadilah rumah tangganya sebagai baitu al-ma’arij yang sakinah (menuju ketenangan universal), mawadah (menuju cinta central semesta), wa rahmah (mengejawantahkan kasih sayang bagi seluruh alam).

Akan tetapi jika dalam sebuah rumah tangga isinya hanya rijal dan nisa yang tidak saling mengqawamuna, maka yang akan terjadi rumah tangganya akan menjadi bait an-nar, bait asfala safilin yang akan mengejawantahkan kethaga-an..

Imam kehidupan idealnya adalah yang tartil bacaan hidupnya, yang fashahah bahasa hidupnya, yang nyaring tapi lembut suara hidupnya, yang tuma’ninah gerakan hidupnya, yang memenuhi syarat dan rukun hidup ucap juga geraknya, yang tertib dan berkesinambungan susunan hidupnya.

Dan makmum yang ideal adalah makmum yang faham akan tugas keimamaman dan tugas kemakmuman, agar ketika imam salah, sang makmum mampu mengkoreksi kesalahan sang imam dengan bahasa yang subhan dan atau dengan tepukan yang beradab.

 

Kesimpulan

Dari apa yang telah kita bahas bahwa Imam bagi istri itulah salah satu tugas  utama suami, Kemampuan menjadi imam itu dalam kajian tasawuf , irfan, dan spiritual adalah kemampuan pilih tanding yang tidak sembarang pria mampu.

Tidak semua pria atau suami bisa qawwamuna ‘ala an-nisa dan tidak semua perempuan atau isteri bisa diqawamuna oleh ar-rijal.

suami dan istri itu sama penting posisinya, rahasianya ada dalam kalimat ayat selanjutnya, yaitu :

“… bimaa fadhalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin…”

‘Dengan sesuatu yang Allah telah memberi kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lainnya’.

Dengan segala kekurangan yang ada semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

cheerss.. KLepus … whuUuZz


Sumber foto : Pixabay.com

Facebook Comments
BerlanggananDapatkan ebook gratis dan penawaran menarik

Berlangganan untuk selalu update jika blog ini menulis artikel baru. Ada penawaran menarik seperti ebook gratis, diskon buku, dan lain-lain.

error: Content is protected !!