Teori Yang Hidup

Sekumpulan Teori

Dari sudut pandang fiqih praktis, teks fatwa yang ada dalam kitab-kitab fiqih itu adalah teori. Aplikasinya itu ya prakteknya. Seperti shalat, zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan lain-lain.

Dari sudut pandang kajian makrifat, baik itu tasawuf, irfan ‘amaliy, atau irfan nazhriyi, ritual ibadah itu masih dalam ranah teori. Bisa dikatakan sebagai teori level. 2, teori level 1-nya itu teks yang ada dalam kitab-kitab. Praktek ibadah  seperti ritual shalat, zakat, shaum di bulan Ramadhan, pergi haji, dll itu masih teori. Dan aplikasinya adalah akhlak dari lisan, tulisan, dan perbuatan sehari-hari yang menjadi sifat, kebiasaan, dan ‘brand’ suatu diri.

Oleh karena itu sangat banyak manusia ahli shalat, tepat waktu, sunnah dan fardhu mateng, tahajud mantep, akan tetapi bengis dan kasar. Ahli puasa, sunnah dan fardhu keren, akan tetapi dengki dan hasud.

Ahli zakat dan shadaqah akan tetapi lisannya mudah menghina, mencaci, mengadu-domba, dan sejenisnya. Sering pergi haji, sampe umrah bisa tiap bulan, akan tetapi akhlak mulia dan lisan yang fasih akan ilmu sama sekali tidak terlihat. Ya karena mereka masih berada pada level teori, belum aplikasi.

 

Teori Yang Menghasilkan

Ibadah fiqih praktis bisa menghasilkan pahala yang dapat menjadi harapan di akhirat, akan tetapi penentu dari semuanya adalah sebaik apa manusia terhadap dirinya dan terhadap manusia lainnya.

Oleh karena itu dalam ayat dan hadits kata yang sering dipakai dalam anjuran beribadah adalah ‘dirikanlah’, ‘tegakkanlah’, ‘istiqamah-kanlah’, dan yang sejenis, yang diwakili oleh kata qiyyam/aqimu.  Tidak atau jarang diwakili oleh kata if’al (kerjakanlah) dan kata yang seakar…

Jadi apakah ibadah kita selama ini itu aqimu atau af’ilu. Qiyaman atau fa’lan/fa’ilaan/fi’aalan. Wazan atau mauzun ?? 

Apakah ibadah kita selama ini masih huruf, lafazh, kalam, atau kalimah ?? Apakah masih terikat zaman dan makan, atau sudah bebas ?? Sebagai fi’il, fa’il, atau maf’ul ??

Seperti teori “Manusia yang terbaik diantara kalian adalah yang paling banyak manfaatnya”

Jika suatu saat ada bencana atau bala yang menimpamu dan kamu bertanya : “Koq bisa begini, kenapa, aku kan tidak merasa telah berbuat jahat ?!”. 

Sadarilah… Mungkin bencana dan bala tersebut adalah balasan dari sakit hati yang orang lain derita akibat tulisan, lisan, dan perbuatanmu. Yang kamu tidak sadar atau merasa bahwa kamu telah berbuat zhalim terhadap orang tersebut. 

Mungkin orang yang kamu sakiti tidak sedikitpun berniat membalas. Tapi alam akan memproses tiap zarrah yang berada dalam teritorinya, diolah oleh sistem sempurnanya. Kemudian mewujud dalam untaian-untaian taqdir kecil yang akan membentuk taqdir akhir. Itulah yang dikenal dengan guratan qadha dan qadhar atau aliran al-‘adl.

Oleh karena itu tiap manusia suci dalam berbagai zaman pasti mengingatkan “hati-hati dengan tangan dan lidahmu”. Karena mereka sangat tahu bahayanya. Akan tetapi sebagian manusia kadang tidak sadar dan malah ingin menyalahkan pihak lain atas bencana dan bala yang menimpanya. 

Padahal bencana dan bala tersebut pada hakikatnya hasil dari apa yang telah dia tanam. bahwa bencana dan bala tersebut adalah peliharaan setianya yang akan selalu kembali kepada tuannya.

Jadi, daripada menyita banyak waktu memperdebatkan dan mempertanyakan mengenai ‘diri’ dari bencana tersebut kenapa tidak langsung terapkan teori “manfaat” di atas. Itu lebih banyak manfaatnya bagi yang terkena bencana.

 

Teori Yang Mengejawantah

Teori, sepanjang, selebar, dan secanggih apapun akan hanya tetap menjadi sekumpulan angka dan huruf yang mati jika tanpa ejawantah atau wujud amaliy dari manusia itu sendiri. Terserah siapa yang mau mengejawantahkan, asal manfaat luasnya dapat terasa, maka teori yang asalnya hanya ide, kumpulan angka dan huruf mati dapat menjadi hidup dalam kehidupan manusia.

Jika kumpulan kata-kata dan angka-angka kebaikan telah hidup dalam kehidupan manusia, maka kehidupan manusia akan berada dalam wujud teori khairul barriyah.

Semoga saya dan para pembaca dapat mengejwantahkan seluruh teori kebaikan pada maksimalnya. Minimalnya, setidaknya satu teori kebaikan dapat kita wujudkan dalam amaliy, baik itu amaliy lahir maupun amaliy bathin.

Terimakasih telah berkunjung dan salam damai…Cheers… KLepus… whuUuZz

Share the knowledge ✓

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.